Montessori for My Kid

MONTESSORI
Dari namanya, orang sering kali mengasosiasikan dengan agama tertentu. Sekolah Montessori, diasosiasikan dengan sekolah agama tertentu. Benarkah?

Saya tertarik menulis tentang Montessori karena anak saya saat ini sedang menjalani pendidikan pertamanya dengan metode yang disebut MONTESSORI ini. Dan kami 100% Islam.

>>>>>>>>>>>>>>  What is it?  <<<<<<<<<<<<<<
Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya sampai jenjang pendidikan menengah.

Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan pengamatan klinis dari guru (sering disebut “direktur” atau “pembimbing”). Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan otodidak (koreksi diri) untuk memperkenalkan berbagai konsep.

>>>>>>>>>>>>>>  About Dr. Maria Montessori <<<<<<<<<<<<<<
Maria Montessori (lahir di Chiaravalle, Ancona, Italia, 31 Agustus 1870 – meninggal di Noordwijk, Belanda, 6 Mei 1952 pada umur 81 tahun) adalah seorang pendidik, ilmuwan, dokter Italia. Ia mengembangkan sebuah metode pendidikan anak-anak dengan memberi kebebasan bagi mereka untuk melakukan kegiatan dan mengatur acara harian. Metode ini kelak dikenal dengan Metode Montessori

Walaupun banyak sekolah-sekolah yang menggunakan nama “Montessori,” kata itu sendiri bukan merupakan merk dagang, juga tidak dihubungkan dengan organisasi tertentu saja.

Maria Montessori mengenyam pendidikan teknik pada sebuah sekolah teknik dan lulus dengan pujian. Setelah itu ia masuk ke dalam Regio Instituto Tecnico Leonardo da Vinci pada 1886 hingga 1890 untuk mempelajari bahasa dan ilmu alam.

Pada 1890, ia melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswa kedokteran. Sebuah hal yang dipuji dan mengagetkan karena ia adalah mahasiswa kedokteran wanita Italia yang pertama. Pada masa itu, sebuah hal yang mustahil bagi wanita Italia untuk memperoleh pendidikan kedokteran. Ia lulus dari sekolah kedokteran dengan pujian.

Sebagai dokter, ia berkonsentrasi dengan masalah keadaan anak-anak dengan mental terbelakang di panti asuhan. Kebanyakan anak-anak tersebut terganggu mentalnya karena kesalahan orang dewasa.

Pada 1900, ia mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar di Roma. Ia menggunakan caranya sendiri dan berhasil mendidik anak-anak tersebut dengan hasil yang sebaik anak-anak biasa.

Hingga menjelang akhir hidupnya, Maria Montessori terus memberikan kuliah tentang metodenya dan membuka sekolah Montessori di seluruh dunia.

=============================================================

CURRICULUM

Practical Life Exercises that promote mind and body coordination, control and refinement of basic movements, and develop focus and attention. These exercises in movement, self-help, care of the environment and grace and courtesy capture the preschool child’s natural interest and innate desire to participate in the affairs of the world around him, transforming these exercises into purposeful activities which build good habits for exploration and learning which extends to the home and even to the larger, more conventional learning environment.

Sensorial Development Exercises are didactic materials that enhance and enrich visual-motor, auditory, tactile, olfactory, gustatory and three-dimensional (stereognostic) perceptions. Sensorial materials give the child the power to come into contact with his/her world through the use of all his/her available faculties. Only with the guidance of a trained directress, sensorial materials can develop a child’s keen attention for details, order and sequence….essential foundations for acquiring language and math skills.

Language Exercises on vocabulary enrichment, language training, letter sound and alphabet association, word building/composition, comprehension, expressive writing and reading. The Montessori language curriculum provides a range of indirect and direct experiences in the meaningful acquisition and use of language, both in English and the vernacular.

Math Exercises on the basic concepts of 0-10, tens and teens, the decimal system and four math operations. Developmentally appropriate, the Montessori Math curriculum places a prime on concrete and meaningful learning of Math concepts with the sensorial materials as its foundation.

Cultural Arts Exercises covering selected concepts of Biology, History and Geography. These materials “bring the world to the child” and exposes his/her to various topics of interest from which to select, pursue and promote his/her inclinations.

Spiritual Exercises for the development of a fundamental relationship with God, nurturing and appreciating relationships with fellow human beings and nature. The exercise of silence allows the child a profound realization of self and promotes intra-personal awareness as he/she develops into the person he/she is to become.

Music, Movement and Art Exercises for self-expression and creativity. Action Singing, dancing, movement exercises and the arts provide opportunities for your child to express his/her own uniqueness and “create” using his/her body. The child realizes the wonderful potentials of his/her body and grows in loving appreciation of it.

CLASS:

>> Usia 2-6 tahun dicampur dalam 1 kelas.

>> Kelas dibagi dalam beberapa bagian, mulai dari Cultural,Math, Sensorial, EPL(Exercise Practical Life)

>> Setiap hari fasilitator akan melihat catatan perkembangan PER ANAK kemudian si Anak akan diarahkan ke tempat dimana ia akan belajar hari ini, baik math, sensorial, atau yg lain. Dan, setiap ANAK belajar HAL YG BERBEDA pada 1 SAAT yg SAMA

CARA BELAJAR:

>> Setiap anak akan menggunakan perangkat/tools belajar. Fasilitator akan mempresentasikan bagaimana menggunakannya. Setelah itu anak akan berlatih sendiri. Fasilitator hanya mengamati kemudian mencatat bagaimana kemampuan si Anak (tapi bukan dengan score angka). Si anak silakan meng-eksplorasi sendiri.

>> Belajar dengan menggunakan TANGAN/doing sehingga banyak sekali perangkat belajar yg dipakai. Belajar tidak by listen to instruction, tetapi dengan by doing

>> Tidak dibenarkan adanya “PERSAINGAN” dalam hal prestasi misalnya Ranking/Score

>> Pendidikan karakter misalnya belajar sosialisasi dengan baik seperti bagaimana menghormati & menghargai teman

=============================================================

=============================================================
Berikut copas dr http://sidomi.com/124070/bermain-sambil-belajar-dengan-maria-montessori/

Seorang anak berusia empat tahunan, terlihat asyik sendiri. Ia tengah menjajarkan balok demi balok yang berukuran berbeda. Dibandingkannya balok tersebut satu sama lain, lalu diurutkannya berdasarkan besar-kecilnya balok. Di sebelahnya, anak lain tengah sibuk mencocokkan tulisan dalam sebuah kertas kecil dengan sederetan mainan berbentuk binatang. Dipilihnya sendiri mana yang macan, mana yang anjing. Ada pula yang tengah belajar menuangkan air ke dalam gelas dengan perhatian penuh.

Bermain sambil belajar; belajar sambil bermain. Anak-anak ini tengah berpraktik langsung untuk mememahami konsep atau keterampilan tertentu. Belajar hal-hal ‘ringan’ yang berguna bagi kemandirian mereka. Menyenangkan karena mereka langsung menyelami kegiatan-kegiatan tersebut; menantang karena anak memang lebih suka bekerja, belajar, dan ‘menemukan sesuatu yang baru’. Demikianlah sedikit gambaran seputar Metode Montessori.

Metode ini dicetuskan oleh Maria Montessori, perempuan kelahiran Chiaravalle, Ancona, Italia, pada 31 Agustus 1870. Maria yang seorang pengajar, ilmuwan, dokter, dan Katolik yang taat, awalnya mengamati anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental di panti asuhan. Kebanyakan dari mereka, bermasalah, karena didikan orang tua yang keliru. Harus ada cara untuk mengatasi hal ini. Dan, Maria Montessori tergugah hatinya untuk menemukan solusi.

Tahun 1906, Montessori diminta mengajar sejumlah anak yang orang tuanya dililit kesibukan kerja. Sebuah kesempatan untuk menerapkan metode pelatihan pengembangan kemampuan anak yang selama ini ditekuninya. Dan pada Januari 1907, Casa de Bambini (yang bermakna Rumah Anak-Anak) didirikan di Roma. Sejak saat itulah, metode pengajaran lulusan University of Rome La Sapienza ini dikembangkan dan dilabeli dengan sebutan ‘Metode Montessori’.

Hingga saat ini, banyak sekolah yang menerapkan metode istimewa ini; yang membuat anak merasakan kebebasan, sekaligus mendapatkan pelajaran dan keterampilan hidup berharga dari kegiatan yang seakan-akan hanya ‘eksperimen ringan’. Anak-anak akan tampil lebih percaya diri, beradaptasi penuh dengan lingkungan, independen, dan cerdas karena terbiasa memecahkan masalah sendiri.
=============================================================

WHAT MAKES MONTESSORI CLASSES DIFFERENT?

http://www.pacifica-montessori.com/montessori-classroom.php

Within the Montessori Curriculum the children, in preschool or elementary rooms, work at their own pace according to their individual ability. Gifted children perform at their own accelerated pace. Children who need more time are given what they need to progress confidently. No child must slow down or speed up to keep pace with any group. Teachers “follow the child” and adapt the curriculum to the interest and aptitudes of individual child rather than impose the same curriculum on all children regardless of their interests and aptitude. Since a child stays with the same teacher for three years the Montessori teacher knows each individual well; she can support and encourage each child knowledgeably and confidently.

Ages are combined within the same classroom, so children from 2 ½ to 5 ½ are in the pre-school/kindergarten classes, and children from 6 to 11are in the elementary classes. This means that older children in the class have an opportunity to teach and lead their younger classmates, and younger children have the opportunity to model themselves on the superior performance of the older children. The effect is that there are multiple teachers in each class and progress tends to be accelerated.

Another major difference is the structuring of time in a Montessori class. In a traditional classroom the activities the child engages in are determined by the teacher. These activities will typically last about 20 minutes, then the whole group rotates on. In the Montessori classroom you will see a beehive of independent activities all over the room: two children might be doing math together, some others working on the rug with a map, a child helping himself to snack somewhere else. Children are allowed to follow their intellectual interests and with that are given the possibility of developing a deep and sustained ability to concentrate.

There are some areas in which Montessori schools do not differ from traditional schools. We teach children socialization skills, the many different ways to get along with friends while maintaining individuality. We celebrate birthdays and holidays with food and art projects. We accommodate our diverse population of our children with sensitivity and openness.

====================================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: