Waspadai … ! Efek Game Terhadap Otak

Game… oh game… saya ingat sekali bagaimana orang tua saya melindungi kami anak-anaknya dari game (N__N_T___D_  sedang trend waktu itu). Bukan berarti orang tua saya jahat, tapi orang tua saya tahu bahwa game seperti itu dapat membuat anak kecanduan sehingga lupa akan segala tugas-tugasnya (memikirkan dan mempersiapkan masa depan). Logis saja karena sebelum baliq, sulit bagi seorang anak manusia untuk mengendalikan dirinya. Untuk itu, peran orang tua lah yang menentukan. Terima kasih Ayah… Terima kasih Ibu…

Kenapa saya tiba-tiba membahas ini? Karena anak saya mulai mengenal dunia digital… dan saya mesti bersiap sebagai pendamping yang bijak. Oya, bukan berarti saya anti game lho… saya juga begitu jebol SMA main video game dan suka minta-minta copy ke teman kok hihihi… cuma bedanya… sudah yakin dapat mengontrol diri (insya allah). Lagipula, game tidak melulu negatif karena kita bisa belajar teknologi game termutakhir, mungkin menjadi lebih imaginatif, dan mempelajari arah industri ini mau kemana.

Berikut adalah tulisan menarik, silakan dibaca semoga bermanfaat. Jangan lewatkan kalimat terakhir. That’s the point!

Efek ”Game” terhadap Otak

Penulis: Alumnus Departemen Teknik Informatika ITB, bekerja sebagai IT consultant
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/28/cakrawala/utama01.htm

DISADARI atau tidak, komputer telah mengubah kehidupan manusia modern
dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana menghibur diri sendiri.
Komputer juga telah mengubah cara belajar, misalnya dengan game yang bukan
sekadar mainan tanpa manfaat. Salah satu video game yang populer adalah
Tetris. Sebuah game di mana ubin dengan berbagai bentuk dijatuhkan dan
pemain harus menyusunnya sedemikian rupa sehingga sedapat mungkin tidak
ada ruang kosong.

PENURUNAN gelombang beta yang besar terjadi jika orang lebih banyak
bermain video game. Beberapa studi melaporkan bahwa bermain video game
dapat meningkatkan kecepatan detak jantung, tekanan darah, dan konsumsi
oksigen cukup signifikan.* DOK.”PR”
Di awal tahun 1990-an Richard Haier, seorang profesor psikologi dari
University of California, Amerika Serikat, memantau cerebral glucose
metabolic rates di otak pemain Tetris menggunakan PET scanner. Rate
glukosa menunjukkan berapa banyak energi yang dikunsumsi oleh otak
sehingga secara garis besar memperlihatkan seberapa keras otak bekerja.
Haier mengukur level glukosa pemain Tetris pemula ketika sedang ‘sibuk’
mengatur susunan ubin jatuh dalam permainan tersebut. Kemudian level ini
diukur kembali beberapa bulan berikutnya untuk pemain yang teratur bermain
Tetris. Hasilnya, meski level kesulitan game Tetris bertambah dalam skala
7, level glukosanya malah semakin turun. Artinya, kenaikan kesulitan dalam
game melatih pemain secara mental memanipulasi kesulitan mengatur
balok-balok Tetris menjadi terasa lebih mudah. Akibatnya, kerja otak
menjadi lebih ringan. Jadi, sangat mungkin anak yang kesulitan pelajaran
matematika, misalnya, akan menjadi lebih terbiasa dan menganggap mudah,
apabila dia sering berlatih game matematika.

Efek negatif

Penelitian efek video game pada otak menjadi demikian populer seiring
dengan persentase pemain dari anak-anak maupun orang dewasa yang terus
meningkat. Game yang tersedia di pasaran memang bervariasi mulai dari
catur yang membutuhkan logika, balap mobil, petualangan, hingga
pertempuran senjata dan strategi perang. Selain memberikan efek positif
seperti merangsang kerja otak dan refleknya hingga menjadi lebih cerdik,
serta meningkatkan koordinasi antara mata dan jari, efek negatif di luar
manfaat yang diberikan juga terjadi. Beberapa orang percaya bahwa aksi
kekerasan di video game atau media lain bisa mendorong perilaku yang tidak
baik juga bagi pemainnya.

Beberapa studi menyimpulkan bahwa orang yang bermain game adegan kekerasan
menjadi lebih agresif dan berpeluang untuk melakukan tindak kekerasan,
serta berkurangnya perasaan ingin menolong sesama. Akan tetapi, kritikus
juga berpendapat bahwa bukan game tersebut yang mengubah perilaku, tetapi
memang sejak awal pemain tersebut punya kecenderungan bertindak kasar.
Untuk itu, seorang ahli psikologi, Bruce Bartholow dari Universitas
Missouri-Columbia, AS, dan koleganya menemukan bahwa orang yang bermain
game kekerasan menunjukkan respons otak yang berkurang terhadap gambar
kekejaman yang asli seperti pertempuran senjata. Respons otak yang
berkurang ini tidak terjadi ketika dihadapkan pada sebuah gambar yang
menggugah emosi seperti hewan mati atau anak sakit. Menurutnya, mungkin
hal ini berhubungan dengan kecenderungan berkelakukan keras.

Pengamatan unik lainnya juga pernah dilakukan untuk melihat bagaimana efek
video game terhadap pemain. Sepasang kakak beradik memainkan sebuah game
perlombaan balap mobil. Sama sekali bukan game yang mengandung nilai
kekejaman atau kekasaran perilaku. Si adik memenangkan pertandingan ini.
Tiba-tiba sang kakak berdiri dan memukul si adik sambil marah-marah.
Keesokan harinya si adik bermain sendirian dengan jenis permainan lainnya.
Kali ini ia gagal menyelesaikan satu level game. Karena jengkel, ia
melempar game controler-nya dan berteriak pada layar TV “Kenapa kamu
lakukan ini padaku?”.

Gelombang beta

Lucu memang, video game bisa membuat orang jadi ‘bete’ dan bertindak
kasar. Bahkan di sebuah pusat permainan game dengan koin, seseorang yang
frustrasi karena gemas dengan kekalahannya memukul mesin game dan tak
peduli lagi dengan sikapnya yang sangat memalukan. Apa yang terjadi di
otaknya sehingga tindakan seperti itu ia lakukan ketika sedang jengkel
hanya karena video game yang cuma kehidupan ‘bohongan’?

Berkaitan dengan hal itu, seorang profesor dari Tokyo’s Nihon University
memimpin penelitian dengan mengamati efek video game terhadap aktivitas
otak. Dengan 260 responden yang dibagi menjadi tiga kelompok,
masing-masing adalah kelompok yang jarang bermain video game, kelompok
yang bermain video game 1-3 jam dengan frekuensi 3-4 kali dalam seminggu,
dan terakhir kelompok yang bermain 2-7 jam setiap hari. Ia memonitor
gelombang beta yang mengindikasikan otak sedang aktif bekerja, kemudian
tingkat ketegangan yang terjadi di area prefrontal otak, dan terakhir
gelombang alfa yang muncul saat otak sedang beristirahat.

Hasilnya menunjukkan, penurunan gelombang beta yang besar terjadi jika
orang lebih banyak bermain video game. Aktivitas gelombang beta pada
kelompok yang bermain game 2-7 jam setiap hari hampir mendekati nol,
bahkan ketika mereka sedang tidak bermain game. Selain itu, pengamatan ini
menunjukkan bahwa mereka banyak menggunakan area prefrontal otaknya.
Beberapa responden dari kelompok ini menyampaikan bahwa mereka mudah
marah, sulit berkonsentrasi, dan punya persoalan bergaul dengan
teman-temannya.

Dua poin pentingnya adalah bahwa penurunan aktivitas gelombang beta dan
penggunaan area prefrontal otak bisa jadi berkorelasi terhadap perilaku
agresif. Berikutnya, penurunan gelombang beta masih terus terjadi meski
sudah berhenti bermain bahkan saat perangkat telah dimatikan, yang artinya
efeknya masih bertahan. Jika memang otak dapat dipengaruhi oleh video game
sehingga menciptakan perubahan perilaku, apakah itu berarti bahwa otak
menganggap game sebagai sesuatu yang riil?

Sikap bijaksana

Ketika sedang di tengah-tengah permainan yang seru, sering kali kita
diliputi rasa takut, sungguh-sungguh memberikan perhatian, dan menjadi
tegang. Menurut Akio Mori, hal ini bisa membawa efek panjang terhadap
saraf refleks yang berkaitan dengan proses bawah sadar seperti bernapas
dan kecepatan detak jantung. Kecepatan detak jantung sendiri dapat berubah
dengan sinyal elektrik dari pusat emosi di otak atau oleh sinyal dari
hormon sebagai pembawa pesan yang bersifat kimiawi. Epinefrin (adrenalin)
dan norepinefrin ini dihasilkan dari kelenjar adrenal sebagai respons
ketika bahaya datang. Untuk yang satu ini, tentu sering kita alami di saat
takut ketemu ular, takut ketinggian, dan ketakutan yang lain.

Beberapa studi melaporkan bahwa bermain video game dapat meningkatkan
kecepatan detak jantung, tekanan darah, dan konsumsi oksigen cukup
signifikan. Dengan kata lain, jika kecepatan detak jantung yang meningkat
terjadi ketika bermain video game, artinya otak merespons video game
seolah tubuh betul-betul dalam keadaan terancam.

Dengan segala keterbatasan manusia, kesimpulan dari penelitian-penelitian
tersebut belum bisa dikatakan benar secara mutlak. Akan tetapi, tidak ada
salahnya dijadikan sebagai salah satu referensi. Apa pun efek yang
menyertai ketika seseorang bermain game hendaknya disikapi secara
bijaksana. Tidak semua game menampilkan adegan kekerasan dan tidak semua
orang peduli secara berlebihan pada kekalahannya saat bermain. Yang justru
perlu diwaspadai adalah apabila hobi ini membuat lalai atas kewajiban
bekerja, belajar, dan beribadah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: