Siapa Pembentuk Karakter Bangsa?

Beberapa hari ini saya membaca sebuah buku Self Healing yang menekankan bahwa sebenarnya setiap orang tua merupakan cermin bagi anaknya dan karakter anak seperti X atau Y juga merupakan bentukan langsung ataupun tak langsung dari orang tua. Anak yang diabaikan, ditinggalkan (tak terurus) akan menjadi pribadi yg cenderung destruktif, agresif, atau justru sebaliknya menarik diri dari lingkungan sekitar, tak mengenal emosi, tak mengenal empati. Anak yang menangis dan dibiarkan saja, ia akan belajar bahwa dirinya tak berarti.

Menurut studi, justru anak yang being neglected, being abandoned akan lebih fatal akibatnya bagi si anak itu dibanding being abused. Wow… mengetuk pintu kesadaran semua orang tua saya kira.

Apa yang dipelajari si anak ketika ia diabaikan atau ditinggalkan? Pada kondisi itu anak akan merasa dirinya tak layak dicintai, tak layak mendapatkan perhatian orang tuanya. Mengapa demikian? Karena sudah menjadi spesifikasi dari Tuhan bahwa anak manusia seusia itu akan selalu menganggap bahwa apa pun yang terjadi di luar dirinya itu adalah diakibatkan oleh dirinya. Segala hal negatif yang terjadi baik pada dirinya,orang tuanya adalah diakibatkan olehnya. Itu lah mengapa, si anak akan berpikir “Kenapa ibuku selalu pergi begitu saja?”… ia jawab sendiri “pasti karena aku anak yang tidak berarti… aku anak yang tidak membanggakan… aku anak yang nakal… aku anak yang jelek…”.

Pernahkah Anda lihat atau bahkan alami sendiri sewaktu kecil, mencari perhatian orang tua dengan melakukan hal-hal yang bisa memecah perhatian mereka? Ketika kita sedang dihadapkan pada suatu kondisi emosional yang disebut sebel, jengkel, atau marah, orang tua tidak peduli bahkan ada yang mentertawakan? Orang tua tidak menunjukkan empati atas apa yang sedang terjadi pada diri kita? Kita (atau anak) akan menangis sekeras-kerasnya sampai bergelesotan di lantai, bahkan melempar benda-benda (yang cukup berharga bagi orang tua). Yang sebenarnya diharapkan adalah orang tua menjadi lunak kemudian mendatangi kita dengan penuh kasih. Tapi apa yang lebih sering terjadi? Orang tua justru marah…….. membiarkan kita terguling-guling di tanah karena sedang menahan emosi.

” I just want to be loved… ”

“I just want you to show me that you care about me”…

Andai anak bisa mendeskripsikan dan mengungkapkannya dengan kata-kata, itulah sejatinya yang ingin ia sampaikan.

Berikutnya, ada 2 hal yang sangat penting bagi anak adalah senyuman dengan menatap langsung kedua matanya, dan sentuhan fisik. Dengan tatapan mata yang sejuk padanya dan dihiasi senyuman, ia belajar bahwa ia di-CINTAI. Dengan memberikan sentuhan fisik, ia belajar bahwa ia merasa aman. Hasilnya? ia tumbuh dewasa dengan self esteem yang tinggi.

Jadi, apa kaitannya dengan karakter bangsa? Sebuah bangsa jika di-breakdown menjadi komponen-komponen pembentuknya, maka akan kita dapati satuan terkecilnya yaitu individu. Kehidupan setiap individu semenjak jabang bayi hingga dewasa (belasan tahun) merupakan tanggung jawab orang tua. Jika semua (atau sebagian besar) individu pada suatu bangsa mendapatkan pengalaman hidup asuhan orang tua dengan baik, maka bangsa itu pun akan berkarakter baik. Demikian pula sebaliknya. Jika semua (atau sebagian besar) individu tsb diasuh dengan tidak baik, maka bangsa itu pun berkarakter tidak baik.

Lalu siapakah yang paling bertanggung jawab atas itu semua? Sejauh ini, kesimpulan saya adalah ibu. Karena apa? Ibu memiliki kekuasaan yang sangat besar, kontrol yang besar pada tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikologis. Apalagi, sebagai muslim bukankah kita tahu apa pekerjaan utama seorang ibu? Di akhirat Tuhan tidak akan bertanya pada wanita mengenai berapa banyak uang yang kamu hasilkan untuk keluargamu, atau bagaimana kualitasmu dalam memberikan nafkah bagi keluargamu. Bukan itu…

Wanita yang dapat membangun keluarganya sedemikian rupa sehingga memberikan kontribusi yang besar bagi kemaslahatan umat adalah wanita yang mulia…

Sayangnya, globalisasi telah menggeser “hakikat” itu. Kemuliaan wanita kini diukur dari berapa banyak uang yg dihasilkan, atau setinggi apa jabatannya di dalam organisasi profesional. Bukan berarti bahwa wanita tidak boleh berkarir atau berkarya. Akan tetapi, semangat yang ada di dalam setiap hembusan nafas mestinya adalah untuk keluarga terutama pembentukan generasi penerus bangsa ini. Sedih rasanya melihat seorang anak balita bahkan batita yang ditinggal begitu saja setiap hari oleh ibunya, cukup dengan pembantu dan bahan makanan. Tidak sedikit ibu yang berpikir bahwa kebutuhan bagi anak kecil hanyalah susu hangat, nasi lauk pauk, diapers, tempat tidur, tv, dan pembantu. Ironi…

Ingin contoh sukses mengasuh anak? Ibu Mien Uno merupakan contoh nyata. Ia baru mulai bekerja ketika anaknya berusia 10 tahun. Di usia itu anak sudah dapat mandiri dan berpikir cukup bijak berdasarkan bekal yang diberikan selama 10 tahun. Anda tahu sendiri kan siapa putranya? Orang no 27 terkaya di Indonesia yang (menurut media) berkepribadian unggul, soleh, dan rendah hati.

Sebuah yayasan yang bernama Yayasan Jati Diri Bangsa, pernah mengulas hal ini dan ditayangkan di TV dengan pembicara seorang Prof Teknik Industri ITB. Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan anak-anak muda yang berkarakter jika yang mengasuh adalah pembantu rumah tangga yang SD pun tak lulus? Begitu lah kira-kira.

Ini adalah secumpil pemikiran saya sejak beberapa tahun lalu dan kemudian di-iya kan oleh buku tsb. Terima kasih Tuhan, karena telah menuntun saya dalam pembelajaran hidup ini. Semoga wanita-wanita Indonesia menyadari pentingnya bahkan urgentnya hal ini. Baik buruk bangsa ini adalah di tangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: