Kesempatan Kedua: Aa Gym

Ulama pun manusia biasa…

Tak luput dari salah, kekeliruan, jebakan nafsu duniawi, lupa, takabur, dan penyakit hati lainnya yang kata Aa Gym jauh lebih berbahaya dibanding penyakit fisik. Kenapa tiba-tiba bicara tentang Aa Gym?

Dosen saya memposting tulisannya mengenai kasus yang sekarang sedang mendera Bpk. ZMZ (Dai Sejuta Umat). Dalam tulisan itu ada beberapa komentar pribadi Pak Dosen terhadap kasus Aa Gym beberapa waktu silam. Sebuah komentar dari seorang mahasiswanya mengarahkan pada video tayangan acara Just Alvin di MetroTV yang disiarkan pada bulan ramadhan kemarin. Judulnya “Kesempatan Kedua”.

Bagi yang belum menontonnya, kunjungilah  http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/08/22/6640/207/Kesempatan-Kedua

Langsung saja saya sambar link web metrotvnews.com. Wah betapa senangnya saya melihat sosok yang selama ini “hilang” kembali mampir di mata saya. Sebenarnya bukan sekedar sosoknya alias jasadnya yang saya sukai, melainkan “jiwa” nya yang kembali menyapa para penonton. Kali ini ia hadir tidak untuk menceramahi, tapi hadir untuk memberikan pernyataan yang sangat sangat menyentuh nurani saya sebagai manusia.

Dengan rendah hati, jujur, dan ikhlas… ia berani mengatakan bahwa ia telah berbuat kesalahan di masa lampau, yaitu di masa ia mengecap popularitas yang sangat sangat tinggi. Perasaan bahwa merasa lebih dibanding yang lain, pun ia akui. Niat utk riya’, juga tak ia pungkiri. Subhanallaah, seorang ulama yang  saya jumpai di Daruut Tauhid, di SABUGA ITB, di Masjid Salman ITB, dan di televisi… yang dulunya begitu tampak “waaaahhh… betapa mulianya dia di mata Allah” (ini penilaian saya waktu itu), kini ia dengan lapang dada dan besar hati menyampaikan pengakuan “kesalahan”. Sebenarnya dari waktu itu pun, saya sudah mendengar selentingan dari orang dekat Aa Gym yang kebetulan satu almamater dengan saya, bahwa kehidupan pribadi beliau tetaplah kehidupan “manusia biasa”. Apapun itu di cerita lalu, yang saya kagumi sekarang ini ialah, betapa besar jiwanya. Tidak semua tokoh besar seperti ia, mau atau berani mengatakan ini. Sungguh luar biasa…

Banyak kaum hawa yang mungkin sampai sekarang masih “sakit hati” dengan pilihan hidup Aa Gym utk berpoligami. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya itu hak beliau sebagai individu karena semua akibat positif atau negatifnya beliau sendiri yang menanggungnya. Tetapi di lain pihak, ia juga “milik umat” (beliau sendiri mengatakan demikian ke anak2nya) yang sepatutnya memberi contoh yang “baik”. Hanya saja “baik” di sini sifatnya sangat subyektif yaitu “DIANGGAP” baik dan menyenangkan oleh umatnya sesuai “standar nilai” yang masih berlaku di dalam norma masyarakat Indonesia, di waktu ini, dan di dimensi ini. Andaikata Aa tinggal di Saudi Arabia, poligami-nya tak akan dipermasalahkan. Label “POLIGAMI” itu seperti sudah menjadi satu kesatuan dalam diri Aa bagi sebagian orang. Dengar kata Aa Gym, langsung berasosiasi dengan kata poligami. Begitulah kira-kira yang ada. Saya tak menyalahkan yang berpikiran begitu karena saya pun mengakui masih berpikiran seperti itu sampai beberapa detik sebelum tayangan Just Alvin mengusik otak dan hati ini. Manusiawi… tapi saya coba untuk berpikir lebih bijak agar dapat memandang fenomena kehidupan Aa sebagai ulama ini dengan kaca mata yang lain. Insya Allah…

Bicara mengenai ketokohan manusia dalam masyarakat, memang manusia itu pada dasarnya selalu mencari “SOSOK SEMPURNA” yang berwujud fisik untuk menjadi panutan. Ketika panutannya tampak tak sempurna menurut standar penilaian dia, marahlah ia (termasuk saya hehehe). Susah juga ya…

Betul juga jika ada yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa hidup manusia di dunia ini akan mudah”… hehehe. Itulah mengapa, saya pikir betapa beratnya menjadi seorang Nabi Muhammad SAW di waktu itu ya… hmm….

Oya, satu hal yang pasti adalah bahwa Aa Gym ini meski bila dipandang dari waktu sekarang maka waktu yang dulu ia bukanlah sosok yang mulia (begitu pengakuan beliau), tapi kita dapat mengambil sisi positif yang besar dari kiprahnya waktu itu. Saudara saya yang non-muslim, Guru saya yang non-muslim, Kerabat saya yang muslim tapi ogah mendengar dakwah keagamaan… mereka MAU bahkan ada WILLINGNESS untuk mendengar ceramah Aa. Buku-buku beliau pun laris manis. Kalau ada ustadz yang isi ceramahnya berisi “ANCAMAN”, Aa Gym justru memilih sebaliknya. Tak dapat disangkal bahwa Aa Gym memberikan ceramah yang MENYEJUKKAN sehingga MENENANGKAN HATI & PIKIRAN bagi siapa saja tak terkotak-kotak dalam agama dan keyakinan. Aa Gym telah menuntun otak dan hati semua pendengarnya untuk kembali pada fitrah sebagai manusia hidup “numpang” di dunia ini. Menurut saya, ilmu yang disampaikannya derajatnya justru lebih tinggi dan lebih susah diimplementasikan dengan tulus ,dibanding ilmu syariat.

Oleh sebab itu, saya pribadi pun tersadar bahwa orang-orang yang menghujat beliau waktu itu (termasuk saya) ternyata tidak lebih baik dari yang dihujat. Meski beliau waktu itu pakai topeng, tapi ia memberi manfaat besar bagi manusia yang lain melintasi batas agama, ras, suku, dan bangsa. Hanya saja mungkin beliau sebagai manusia biasa tidak kuat mengemban kebesaran yang menghampirinya.

Tidak aneh, mengapa? Karena kita tahu bahwa KEBESARAN ITU HANYALAH MILIK ALLAH

Harapan saya untuk Aa Gym ialah kembali memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat secara proporsional. Artinya, pengalaman lalu seperti “terjebak dalam rutinitas dakwah yang menyita seluruh hidupnya” bisa menjadi pelajaran untuk mengelola kegiatan dakwahnya di kemudian hari dengan lebih proporsional dan tentu NIAT yang SEMATA-MATA karena ALLAH. Selalu ada KESEMPATAN KEDUA bagi siapa saja di dunia, jika Allah menghendaki. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: