You’re Fired!

Kalimat ini selalu mengakhiri setiap episode sebuah reality show favorit saya, apa lagi kalau bukan “The Apprentice”. Ada US Version dengan Donald Trumph, Ada UK Version dengan Sir Alan Sugar. Mana yang lebih saya sukai? Tentu UK version, karena orang Inggris memang lebih ekspresif, cenderung lebih vulgar/kasar dalam berkata-kata sehingga lebih menarik ditonton karena lebih emosional. Selain itu, bagi saya Sir Alan Sugar tampak lebih OK dari sisi ketegasan, kecakapan berbicara, kecerdikan berpikir dan kemampuan mengelola situasi sebagai si bos yang sedang mencari the apprentice. Belum lagi Sir Alan juga didampingi 2 asisten setianya Margaret dan Nick yang juga bisa ber-acting dan nge-blend dalam acara ini.

[Taken from wikipedia] Alan Sugar, Lord Sugar is an English businessman and the founder of electronics company Amstrad. He has an estimated fortune of £830m and was ranked 84th in the Sunday Times Rich List 2007.[80] Sugar was knighted in 2000 for services to business and holds two honorary Doctorate of Science degrees, awarded in 1988 by City University and in 2005 by Brunel University.[81] He is a donor to the British Labour Party[82] and has given money to charities such as Jewish Care and Great Ormond Street Hospital.[83] In July 2007, Sugar sold his stake in Amstrad to BSkyB[84] and has since left the business

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari acara ini karena dari setiap tantangan atau tugas yang diberikan, kita dapat melihat dinamika kerja sebuah tim dalam melaksanakan tugas. Konflik manusiawi yang terjadi di antara anggota tim sangat asyik untuk ditonton apalagi jika tim mereka kalah, maka mereka akan saling menyalahkan dan membela diri hihihi…

Sedangkan dari ilmu bisnis, penonton dapat belajar bagaimana menentukan nama/brand produk baru, menentukan target konsumen dan positioning produk, membuat iklan, skill presentasi dan bernegosiasi dengan calon pemesan, menentukan tempat berjualan,  dll… Sangat banyak yang bisa kita pelajari terutama dari kesalahan yang dilakukan oleh para kontestan. Ya, lebih banyak hal yang dapat kita pelajari dari kesalahan yang mereka buat. Ambil contoh, Anda menjual sepasang sepatu harga Rp 200.000,- lalu menyebut bahwa “10% dari setiap penjualan akan disumbangkan ke karang taruna”  maka calon pembeli bakal ogah membeli barang tsb karena sama saja ia membeli harga dasar sepatu Rp 180.000.- dan uang Rp. 20.000,- nya untuk menyumbang dan itu dari kocek dia. Akan lebih baik jika menyebut “10% dari laba penjualan produk ini akan disumbangkan ke karang taruna” karena artinya uang laba milik perusahaan 10%-nya akan disumbangkan. Dengan demikian, yang terpotong ialah uang perusahaan (dari laba) bukan uang mereka secara langsung.

Point yang saya sukai lainnya ialah saat penentuan siapa yang akan dieliminasi. Seandainya saya jadi Sir Alan, saya akan mengeluarkan si A, si B, atau si C ya? hehehe… Kadang kala, pilihan saya sama dengan Sir Alan, tapi kadang meleset. Kontestan yang agresif, banyak bicara, bahkan destruktif dalam tim kadang malah tidak segera dieliminasi. Mungkin karena ini adalah reality show yang banyak penonton, maka orang-orang yang senang berulah harus dipertahankan agar acara ini tetap “emosional”. Apa jadinya kalau yang baik-baik, pendiam, dan datar-datar saja yang tinggal? Acaranya bakal jadi garink🙂

Hmmm… intinya setiap episode sangat menarik untuk diikuti dan tidak membosankan meski diulang-ulang. Acara ini diproduksi oleh BBC sejak Feb 2005, dan Anda dapat menontonnya di BBC Knowledge bagi yang berlangganan Indovision atau TV berbayar lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: