2 titik waktu kritis pelajar SMA jaman sekarang

Tiap tahun selalu ada canda tawa dan tentu saja isak tangis (biar seimbang) para siswa-siswi SMA berkaitan dengan hasil UN. Saya merasa beruntung termasuk angkatan tua yang tidak mengalami UN. Lha bagaimana tidak? Jaman sekarang para siswa harus menghadapi 2 titik kritis dalam hidupnya. Pertama, UN mesti lulus dulu. Setelah lulus UN pun, mereka harus deg-degan lagi mengikuti SNMPTN. Lulus UN jelas menjadi syarat mengikuti SNMPTN. Jaman dulu, EBTANAS tidak terlalu penting, dan titik kritisnya adalah SNMPTN karena menentukan sekali mau jadi apa dirimu kelak. Kalau kamu keterima di Fak. Kedokteran UI misalnya ya insya allah kalo lulus kamu jadi dokter. Kalau kamu keterima di Fak. Teknik ya… kamu jadi engineer (meski banyak juga yang putar haluan ke bidang lain). Jadi, kalau jaman dulu stresnya/kecewanya bukan karena ga lulus EBTANAS, tapi karena ga lolos UMPTN (skrg namanya SNMPTN). Meski demikian, masih banyak PTS yang relatif bagus sebagai pilihan. So, it’s not the end of the world.

Akan tetapi di lain sisi, saya juga melihat sisi positifnya, yaitu anak2 jaman sekarang lebih tegar dan kuat karena digembleng yakni harus mengalami 2 titik kritis berturut-turut. Kalau memperdebatkan sudah benarkah sistem kelulusan dengan UN skrng, ternyata tak ada habisnya dan sampai sekarang sistem itu masih berlaku. Yang pasti, kemarin sewaktu kami sekeluarga melihat di TV bagaimana siswa di luar jawa yang tidak lulus pada histeris, shock, dll… miris rasanya. Kok kita jadi melahirkan anak2 dengan cacat kejiwaan. Tak bisa dipungkiri peristiwa ini memberikan trauma pada mereka. Mengingat usia mereka baru menginjak 17 tahun, sulit mengharapkan mereka utk berpikir dewasa yaitu “semeleh atine” (bhs Jawa), mengambil hikmahnya, bla bla bla… kata-kata penyejuk hati dan pikiran lainnya.

FYI, Secara nasional, tingkat kelulusan UN 2010 menurun 4 persen dari tahun lalu. Angka kelulusan yang semula 93,74 persen kini menjadi 89,88 persen. Berdasarkan data Badan Standar Nasional Pendidikan, terdapat 154.079 siswa yang mengulang ujian pada Mei dari total peserta 1.522.162 siswa. (copas dr detiknews.com)

Fiuh… I hope I can do something for you girls and boys. Semoga ujian susulan nanti kalian dapat menghadapi dengan lebih baik. Usaha keras dan doa kepada-Nya adalah kuncinya.

Di Indonesia ini, kalau tidak duduk di bangku kuliah masih nggak terlalu masalah (jumlah sarjana kita hanya sekitar 2% (PTN & PTS) dari total populasi –> data tahun 2000an). Tapi, bagaimana kalau tidak punya ijazah kelulusan SMA, SMK, atau MA? Apalagi, PTN seperti ITB tidak menerima calon mahasiswa dengan ijazah persamaan.

Ya sudah, jangan berkecil hati. Jadikanlah ini sebagai cambuk untuk menjadikan para pemuda-pemudi kita menjadi petangguh dan ujung-ujungnya kita menjadi bangsa yang beradab, beretos kerja tinggi, berdedikasi tinggi, dan bebas dari kemiskinaaaaaaaaaaaaaaaan!!! Ayo, semangat adik-adik!

Saya sendiri pernah ranking 23 dan tidak naik kelas sewaktu kelas 1 SD. What a pity! Dengan satu tekad bulat untuk bangkit, kita bisa menjadi apa yang kita inginkan. Trust me!

Ayooo Bangkitlah Bangsaku… Bangkitlah Negeriku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: