Dapur adalah Jiwaku

Kalau ditanya bagian mana dari rumah yang sangat berarti dan penting bagimu?

Saya akan jawab dapur. Ruang lain memang penting, tapi dapur adalah salah satu tempat yang private buat saya.

Saya sangat senaaaaaaaaaaang memasak, bikin kue, cake, cookies, puding, minuman dll. Channel TV favorit saya adalah AFC (Asian Food Channel) karena banyak demo masak tiap jamnya. Saya suka beberapa program acara seperti:

  • Sugar, chef: Anna Olson, bikin cake, pastry, dll yang manis-manis
  • French Food at Home
  • From the Garden to the Kitchen, chef Wan memandu dengan lucu bikin geli yang nonton
  • Yuuk Bikin Roti
  • Nigella Bites
  • Naked Chef, siapa lagi kalau bukan si Jamie Oliver yang agak cadel jadi bahasa inggrisnya di telinga pun terdengar seperti angin laut
  • License to Grill, asyiknya barbeque.
  • Chef School, Ya ampun… sekolah masak kok bisa bikin stres juga ya… kirain cuma kuliahnya anak teknik yang bikin stres
  • Take Home Chef, bawa koki ke rumah suruh menyajikan hidangan special utk pasangan atau keluarga kita. Hore….

Saya rasa, memasak itu ada filosofinya dan yang paling penting adalah menikmati prosesnya. Jadi, tiap kali melihat ada ibu-ibu atau gadis-gadis suka menggunakan bumbu instan yang sudah jadi dengan judul bumbu rawon, bumbu opor, bumbu gule, dst…. itu, saya agak menyayangkannya. Memang hak dia kalau pengen gampangnya saja nggak mau repot. Tapi ketahuilah bahwa memasak itu justru asyiknya adalah mulai dari meracik atau meramu, kemudian dipadu dengan ketrampilan tangan dan yang pasti hidung serta lidah harus belajar mengepas cita rasa. Saat menyajikan pun diperlukan seni atau estetika agar yang akan menyantap tertarik.

Saya juga senang sekali mengumpulkan resep dari jaman tahun 80’an hingga yang teranyar. Jadi kelihatan sekali perkembangan dunia kuliner terutama dari tata penyajian, dish yang dipakai untuk foto dan tentu saja kualitas grafis fotonya. Kalau content resepnya masih sama saja dari dulu hingga sekarang.

Setiap gramedia bikin promo atau ada discount langsung deh sambar semua koleksi resepnya. Dari internet seperti ncc-indonesia.com juga sangat OK.  Sekarang ini suami sedang menyiapkan perpustakaan pribadi keluarga agar koleksi kami terorganisasi dengan baik. Semoga saya diberi satu space khusus untuk kumpulan resep saya. Saya sudah tidak sabar untuk memajangnya.

Untungnya suami saya sangat mendukung hobby saya yang satu ini. Saya juga sudah pesan ke dia, kalau mau kasih hadiah nggak perlu perhiasan emas berlian, tolong belikan saja buku resep-resep, peralatan masak yang berkualitas tinggi, perangkat makan yang lux untuk table manner, perlengkapan barbeque, dll pokoknya semua yang diperlukan untuk beraktivitas di dapur. Saya mungkin termasuk orang yang rela mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk memoles dapurnya. Sudah turunan kali ya… dari nenek yang punya rumah makan terlaris di daerahnya di jamannya plus bisnis kue sampai beliau usia 70 thn, ibu saya juga punya restoran tapi kukut karena terkena badai krismon. Sejak kecil sudah terbiasa ikut kerja di dapur, menata meja prasmanan, membuat hiasan di meja, merangkai bunga, hingga dipercaya membuat “mie goreng special” untuk suatu acara syukuran.

Saya juga senang memberikan hasil karya saya ke teman, saudara, para asisten, perusahaan lain, dan tentu beberapa relasi dalam hubungan kerja. Kalau tagihan client macet, salah satu pendekatannya adalah dengan memberikan bingkisan sekeranjang kue hahaha… Tapi kok ya nggak terlalu manjur ya cara ini hehehe

Beberapa orang mulai dari orang tua, mertua, teman-teman kos waktu kuliah, ibunya teman kos, beberapa orang yang sekedar kenal bertanya kenapa kok nggak bisnis kuliner? Waduh, sebenarnya saya itu tertarik sekali bisnis itu tapi saya harus mempertimbangkannya dengan potensi bisnis yang sekarang sedang saya geluti. Mesti fokus ke 1 bisnis. Variannya bisa menyusul nanti. Kalau bisnis kuliner pemainnya sudah banyak dan bermacam-macam sehingga diperlukan diferensiasi yang kuat, positioning yang mengena, dan produk yang fantastic (ini mah… teori marketingnya Pak HK). Selain itu, sekedar bisa membuat itu belum menjamin kesuksesan bisnis.Ketika sudah menjadi bisnis, tantangannya sangat berbeda.

Eh, atau jangan-jangan saya yang terlalu meremehkan bisnis ini ya? Padahal lihat saja ramainya, populernya, dan omset bisnis ini di Bandung seperti Kartika Sari dan Amanda Brownies Kukus. Harusnya memanfaatkan “citra Bandung” sebagai surganya kuliner Indonesia. Ya sudah, saya pendam dulu saja hasratnya mungkin sambil dierami biar hangat hehehe siapa tau nanti menetas. Yang saya tau pasti adalah bahwa keuntungan dari penjualan produk makanan itu 50% nya sendiri. Kalau laris buanget, duitnya nggak bergemerincing (koin) lagi, tapi gedebug… gedebug…. (uang kertas).

2 responses to this post.

  1. Posted by wahyu am on 27/10/2009 at 1:49 PM

    hihihhihiih, saya bagian icip2 aja dah😆

    Balas

    • Saya sebetulnya pernah terpikir untuk memberikan “for free” kepada siapa saja yang saya temui atau bahkan tidak pernah ketemu muka misalnya mas Wahyu ini. Lucu juga kali ya kalau kirim kue ke orang yang tak dikenal, tak pernah ketemu muka, atau dialamatkan ngasal aja cukup baca dari buku yellow pages hahaha

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: