Mengecilkan Diri Sendiri

Seiring berjalannya waktu dengan makin bertambah usia, makin sering menggunakan otak untuk berpikir daripada menghafal, makin banyak membaca buku, makin sering  menyimak kejadian di dunia, makin banyak tokoh ataupun orang “besar” yang ditemui, maka… baik pola pikir, landasan berpikir, maupun sudut pandang berpikir seseorang mulai bergeser atau bahkan berubah dari yang sebelumnya.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menginjak usia 28 tahun ini dengan profesi sebagai Ibu Rumah Tangga (itu pasti & saya bangga), dan sebagai professional di bidang IT yang menggerakkan sebuah bisnis. Apa yang saya maksud dengan “Mengecilkan Diri Sendiri” pada judul di atas? Begini ceritanya.

Saya sering bertemu dengan orang yang saya sebut “sepuh” jika dilihat dari usianya yakni 60 tahun ke atas. Ada yang mantan pejabat negara, pengusaha sukses, mantan rektor (almarhum) yang berani di jaman Soeharto, professor, sampai orang yang sangat sangat idealis dan nasionalis. Tahu tidak apa yang menjadi ciri khas mereka? Tak satu pun dari mereka (setidaknya yang saya kenal atau lihat sendiri) menenteng-nenteng benda berharga misalnya perhiasan emas berlian (untuk wanita), Handphone mewah bertahtakan berlian, Laptop mentereng, atau mobil mewah yang sebenarnya  saya yakin mereka mampu membeli semua benda yang biasanya menjadi kebanggaan & digunakan sebagai barang pameran oleh sebagian orang. Mereka adalah orang yang hari demi hari disibukkan dengan karya dan upaya untuk bangsa ini. Jadi, sudah tidak sempat berpikir gengsi dan konco-konconya.

Saya katakan, semakin orang itu berjiwa besar, berpikir besar, dan melakukan hal-hal besar, dengan sendirinya hal-hal kecil seperti menghiasi diri dengan benda mewah agar dipandang “wah” akan semakin berkurang. Mereka sudah besar dengan apa yang mereka lakukan di dunia sehingga tak perlu diberi aksesoris dengan tujuan semata-mata agar dipandang besar oleh orang lain. Malah, menurut saya, seseorang yang sengaja melengkapi diri dengan aksesoris-aksesoris mewah agar dipandang lebih oleh orang lain, sebenarnya ia telah mengecilkan diri sendiri secara tidak sadar. Mengapa demikian?

Bayangkan, ia merasa bahwa tanpa aksesoris mewah yang ditenteng-tenteng, orang hanya akan melihatnya sebelah mata saja.Artinya, ia menilai dirinya sedemikian kecil sehingga perlu bantuan harta benda untuk “membesarkan” diri. Semakin kecil jiwa seseorang, semakin kecil apa-apa yang dipikirkan dan dilakukannya. Demikian juga sebaliknya.

Memang beginilah yang terjadi di masyarakat kita ini. Harta lah yang menjadi ukuran seberapa mulia kah seorang manusia. Hmmm… ini lah yang mesti kita singkirkan jauh-jauh dari cara pandang kita terhadap orang lain.

Singkatnya, jangan sampai kita dihargai karena perhiasan yang menempel pada tubuh kita. Diri kita sendirilah yang harus besar yaitu dengan berjiwa besar, berpikir besar, dan melakukan hal-hal besar, baik untuk keluarga, agama, bangsa, negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: