Bangga Tidak Naik Kelas

Ingin kuceritakan pada dunia… bahwa aku pernah tidak naik kelas saat kelas 1 SD. Kala itu, usiaku masih 5 tahun ketika orang tua ku harus pindah rumah karena bapak dinas di daerah lain. Nah, orang tuaku mungkin berpikir segera saja masuk SD tidak perlu TK lagi seperti halnya kakak perempuanku yang memasuki jenjang SD sejak usia 5 tahun.

SD Negeri 1 tentu menjadi pilihan utama waktu itu. Saat aku mengikuti tes, sebenarnya Bapak Kepala Sekolah sudah mengingatkan bahwa usiaku belum cukup dan nanti kasihan anaknya kalau merasa terbebani. Singkat kata, aku tak diterima di SD Negeri 1daerah itu. Keesokan harinya ibuku mengantarku ke SD Inpres. Di sana aku diterima tanpa perlu tes karena istilah yang dipakai adalah “titip” sehingga menjadi siswi “pupuk bawang”. Dan sebutan itu memang tepat karena aku nggak ngeh dengan apa yang dibicarakan oleh ibu guru. Disuruh gambar aku juga bingung caranya bagaimana? Aneh ya…mestinya waktu TK aku kan diajarin gambar. Ketika ada ulangan PMP (Pendidikan Moral Pancasila), aku juga nggak ngeh ini ngomong apa sih orang-orang. Singkatnya, di cawu 1 aku ranking 23 hahahaha aku senang sekali…….. karena angkanya banyak, tentu itu artinya prestasi bagus kan? Begitu pikirku waktu itu.

Pulang sekolah, masih di atas becak yang mengantarku pulang pergi ke sekolah, aku berteriak kegirangan, “Ibu… aku ranking 23…!”. Aku tidak ingat bagaimana ekspresi ibuku waktu itu. Tapi, setelah dewasa ketika ku konfirmasi ke beliau, katanya sih beliau ya antara ketawa karena lucu anaknya salah memaknai ranking yang dicapai, plus kekuatiran kalau anaknya ini “bodoh”.

Oya, sebagai catatan, kelahiranku di dunia ini tidaklah mudah karena air ketuban ibu pecah duluan sehingga untuk mengeluarkan aku, dokter menggunakan alat bantu yang orang awam menyebutnya “vacuum”. Prinsipnya sih kepalaku dimasukkan batok alat itu kemudian ditarik keluar dari mulut rahim sehingga sampai di luar kepalaku bentuknya lonjong. Aku bayangkan mungkin mirip semangka yang lonjong itu lho…hehehe. Nah, katanya, ada kemungkinan bahwa cara lahir seperti itu sedikit banyak akan mempengaruhi fungsi otak di kemudian hari. Lha… kok ya benar waktu SD usia 5 tahun, aku ranking 23. Sontak orang tua saya jadi mikir “wah… jangan-jangan betul gara-gara divacuum, anak ini tidak sepintar kakaknya”.

Selanjutnya, saat usiaku 6 tahun dan cukup umur masuk SD, orang tua memindahkan sekolahku ke SD Negeri 1 yang mana aku pernah ditolak sebelumnya. Meskipun dari SD Inpres aku sudah menjalani kelas 1 selama 1 tahun, tapi bapakku meminta agar aku mengulang lagi kelas 1 di SD Negeri 1. Tak disangka, tak diduga, di SD yang jauh lebih bagus itu, dapat ranking 1…. Hah? Kok bisa? Aku lupa mengapa bisa ranking 1. Aku memang ikut les usai sekolah, tapi tidak terlalu ingat apakah aku seorang anak yang rajin belajar waktu itu. Betul-betul tidak ingat secara jelas.

Ya, begitulah… aku ini menempuh kelas 1 SD selama 2 tahun lho. Aku bangga karena teman-teman kuliah tidak ada yang pernah mengalami sepertiku. Hampir semua dari mereka adalah bintang di sekolah masing-masing sejak SD hingga SMA dan dari sekolah-sekolah terbaik/unggulan/favorit di Indonesia, misal: SMA 8 Jakarta, SMA 3 Bandung, SMA 3 Malang, SMA 5 Surabaya, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: